Aktris & produserIndonesialahir 1956

Christine Hakim

Aktris Indonesia dengan sebelas Piala Citra, pemeran Cut Nyak Dhien dan bintang Badai Pasti Berlalu, yang membawa film Indonesia ke Cannes dan tampil di Eat Pray Love serta The Last of Us.

Oleh Lihat.bio EditorialDiperbarui 6 sumber

Christine Hakim
Foto: Adit Redline · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons

Siapa Christine Hakim?

Christine Hakim adalah aktris dan produser film Indonesia yang lahir di Kuala Tungkal, Jambi, pada 25 Desember 1956. Sejak debutnya dalam Cinta Pertama (1973) karya Teguh Karya, ia mengumpulkan sebelas Piala Citra, jumlah terbanyak untuk aktris mana pun, dan mengantar film Indonesia ke festival internasional, dari Cannes hingga Nantes.

Penonton di luar Indonesia mengenalnya sebagai Wayan dalam Eat Pray Love (2010) dan sebagai Ratna Pertiwi, ahli mikologi yang membuka episode kedua serial HBO The Last of Us (2023).

Mengapa Christine Hakim dikenal

Christine Hakim menjadi tolok ukur akting film Indonesia selama lima dekade. Enam Piala Citra Pemeran Utama Wanita ia raih antara 1974 dan 1989, termasuk untuk Tjoet Nja' Dhien (1988), film yang tayang di Cannes dan menjadi film Indonesia pertama yang dikirim ke Academy Awards. Empat Piala Citra berikutnya datang sebagai pemeran pendukung antara 2015 dan 2025, membuktikan ia tetap relevan di era sutradara yang lahir setelah film pertamanya.

Ia juga bekerja di belakang layar: memproduseri Daun di Atas Bantal (1998), film Garin Nugroho yang tayang di Un Certain Regard Cannes, dan Pasir Berbisik (2001). Pada 2002 ia duduk sebagai juri Festival Film Cannes, dan sejak 2008 menjadi Duta Kehormatan Indonesia untuk UNESCO.

Masa kecil

Christine lahir dari pasangan Hakim Thahar, pegawai bea cukai yang saat itu bertugas di Jambi, dan Oma Nurhadiaty. Ia dibesarkan di Yogyakarta. Kerabatnya berasal dari Padang, Aceh, Banten, Pekalongan, Madiun, dan Timur Tengah, latar campuran yang menurutnya membuat ia mempertanyakan identitas pada masa remaja. Nama Christine dan Natalia diberikan karena ia lahir pada Hari Natal; pada 2023 ia mengungkap nama itu juga menghormati dokter misionaris Jerman yang membantu ibunya melahirkan di pedalaman Jambi. Cita-citanya semula arsitek atau psikolog.

Karier

Teguh Karya dan sinema 1970-an

Teguh Karya melihat fotonya di sebuah majalah, hasil pemotretan untuk membantu teman, dan menawarinya peran dalam Cinta Pertama. Christine tidak berani menolak, menyelesaikan syuting, dan berniat berhenti, sampai Piala Citra Pemeran Utama Wanita pada 1974 meyakinkannya untuk lanjut. Dalam dua film pertamanya suaranya diisi Titi Qadarsih karena dianggap terlalu berat; Sesuatu yang Indah (1976) karya Wim Umboh adalah film pertama dengan suaranya sendiri. Setahun kemudian ia membintangi Badai Pasti Berlalu, film yang album jalur suaranya, dinyanyikan Chrisye, menjadi salah satu rekaman terpenting musik Indonesia.

Cut Nyak Dhien dan panggung dunia (1983–2002)

Pada November 1983 ia mempresentasikan empat belas film Indonesia di Festival Tiga Benua Nantes, tujuh di antaranya ia bintangi. Dua tahun kemudian ia menjadi pengamat di Cannes dan menjalin hubungan dengan Pierre Rissient, yang kelak membantu film-filmnya masuk festival itu. Perannya sebagai Cut Nyak Dhien dalam film Eros Djarot (1988) ia sebut sebagai kehormatan besar; film itu tayang di Semaine de la Critique Cannes 1989.

Pada 1998 ia menjadi produser untuk pertama kali lewat Daun di Atas Bantal, dengan sutradara muda Garin Nugroho dan Christine sendiri sebagai pemeran utama. Produksinya yang kedua, Pasir Berbisik (2001), mempertemukannya dengan Dian Sastrowardoyo yang saat itu baru memulai karier. Pada 2002 ia menjadi juri Festival Film Cannes bersama David Lynch, Sharon Stone, dan Michelle Yeoh.

Generasi baru dan layar internasional (2008–sekarang)

Sejak 2008 ia menjadi Duta Kehormatan Indonesia untuk UNESCO, dengan fokus pendidikan, dan aktif dalam isu autisme. Peran kecil sebagai Wayan di Eat Pray Love (2010) memperkenalkannya ke penonton Hollywood. Di dalam negeri ia bekerja dengan sutradara generasi baru: Pendekar Tongkat Emas (2014), Kartini (2017), dan Perempuan Tanah Jahanam (2019) karya Joko Anwar, masing-masing menghasilkan Piala Citra Pemeran Pendukung Wanita. FFI memberinya Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup pada 2016.

Pada Januari 2023 ia tampil sebagai Ratna Pertiwi dalam The Last of Us, adegan pembuka episode kedua yang berlatar Jakarta 1968. Dua tahun kemudian perannya sebagai Maya dalam Pangku, debut penyutradaraan Reza Rahadian, memberinya Piala Citra ke-11 pada malam FFI 20 November 2025.

Filmografi pilihan

Film Indonesia

  • 1973Cinta Pertamadebut, sutradara Teguh Karya; Piala Citra Pemeran Utama Wanita pertama
  • 1977Badai Pasti Berlalu
  • 1977Sesuatu yang Indahfilm pertama dengan suaranya sendiri
  • 1988Tjoet Nja' Dhiensutradara Eros Djarot; tayang di Cannes 1989, wakil Indonesia ke Academy Awards
  • 1998Daun di Atas Bantalproduser sekaligus pemeran utama; Un Certain Regard, Cannes
  • 2001Pasir Berbisikproduser dan pemeran, bersama Dian Sastrowardoyo
  • 2014Pendekar Tongkat EmasPiala Citra Pemeran Pendukung Wanita 2015
  • 2017KartiniPiala Citra Pemeran Pendukung Wanita
  • 2019Perempuan Tanah Jahanamsutradara Joko Anwar; Piala Citra Pemeran Pendukung Wanita
  • 2025Pangkusutradara Reza Rahadian; Piala Citra ke-11

Produksi internasional

  • 2010Eat Pray Lovesebagai Wayan, bersama Julia Roberts
  • 2023The Last of Usserial HBO, sebagai Ratna Pertiwi, ahli mikologi Universitas Indonesia

Prestasi & penghargaan

  • 1974Piala Citra Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Cinta Pertama, yang pertama dari enam kemenangan di kategori itu.
  • 1989Tjoet Nja' Dhien tayang di Semaine de la Critique, Festival Film Cannes, dan menjadi film Indonesia pertama yang dikirim ke Academy Awards.
  • 2002Anggota dewan juri Festival Film Cannes bersama David Lynch, Sharon Stone, dan Michelle Yeoh.
  • 2008Ditunjuk sebagai Duta Kehormatan Indonesia untuk UNESCO dengan fokus pendidikan.
  • 2016Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup Festival Film Indonesia.
  • 2025Piala Citra ke-11, sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Pangku.

Linimasa

  1. 1956Lahir di Kuala Tungkal, Jambi, pada Hari Natal; besar di Yogyakarta.
  2. 1973Ditemukan Teguh Karya lewat foto majalah dan dipilih untuk Cinta Pertama.
  3. 1977Bermain di Badai Pasti Berlalu; wajahnya menghiasi poster dan sampul album.
  4. 1983Mempresentasikan 14 film Indonesia di Festival Tiga Benua, Nantes.
  5. 1988Memerankan Cut Nyak Dhien dalam film Eros Djarot.
  6. 1998Debut sebagai produser dengan Daun di Atas Bantal karya Garin Nugroho.
  7. 2002Menjadi juri Festival Film Cannes.
  8. 2008Duta Kehormatan Indonesia untuk UNESCO.
  9. 2010Tampil di Eat Pray Love.
  10. 2023Tampil di episode kedua The Last of Us (HBO).
  11. 2025Piala Citra ke-11 untuk Pangku, 20 November.

Tautan resmi

Sumber

Rujukan yang dipakai untuk menyusun profil ini. Sumber primer dan lembaga resmi diutamakan; lihat kebijakan sumber.

  1. Christine Hakim Raih Piala Citra ke-11 di FFI 2025, Jadi Pemeran Pendukung Perempuan TerbaikKompas.com, 20 November 2025Diakses 15 September 2026
  2. Profil Christine Hakim, Aktris Indonesia yang Kembali Bersinar berkat The Last of UsKompas.com, 25 Januari 2023Diakses 15 September 2026
  3. Citra Award for Best ActressWikipedia (English)Diakses 15 September 2026
  4. Christine HakimWikipedia bahasa IndonesiaDiakses 15 September 2026
  5. Christine HakimWikipedia (English)Diakses 15 September 2026
  6. Christine Hakim (Q2965943)WikidataDiakses 15 September 2026

Profil ini disusun oleh Lihat.bio Editorial dari sumber yang tercantum di atas dan diperiksa ulang sebelum terbit. Menemukan data yang keliru atau sudah usang? Lihat cara mengajukan koreksi. Dipublikasikan .