Pemimpin perlawanan AcehIndonesia (Kesultanan Aceh)wafat 1908

Cut Nyak Dhien

Bangsawan Aceh yang memimpin perang gerilya melawan Belanda selama puluhan tahun, melanjutkan perjuangan setelah dua suaminya gugur, dan diasingkan ke Sumedang hingga wafat.

Oleh Lihat.bio EditorialDiperbarui 4 sumber

Cut Nyak Dhien
Potret pada uang kertas Rp10.000 emisi 1998 · Foto: Bank Indonesia · Public domain · Wikimedia Commons

Siapa Cut Nyak Dhien?

Cut Nyak Dhien adalah bangsawan dan pemimpin perlawanan Aceh yang memainkan peran penting dalam Perang Aceh melawan Belanda. Ia lahir di Lampadang, Aceh Besar, sekitar 1848, dalam keluarga uleebalang VI Mukim, dan sejak perang pecah pada 1873 menjalani sebagian besar hidupnya dalam lingkungan perlawanan. Setelah suami pertamanya gugur pada 1878, ia menikah dengan Teuku Umar, salah satu panglima Aceh paling terkemuka; setelah Umar gugur pada 1899, ia memimpin pasukan gerilyanya sendiri hingga ditangkap pada 1905.

Belanda mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat, tempat ia meninggal pada 6 November 1908. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1964.

Mengapa Cut Nyak Dhien dikenal

Perang Aceh adalah perang kolonial terpanjang yang dihadapi Belanda, dan Cut Nyak Dhien adalah salah satu wajahnya yang paling dikenang: perempuan bangsawan yang menolak mundur ketika suami dan tanahnya direnggut, dan yang tetap memimpin pasukan di hutan hingga tubuhnya rapuh, matanya rabun, dan pasukannya kelaparan. Penangkapannya pada 1905 terjadi bukan karena kalah bertempur, melainkan karena panglimanya sendiri, Pang Laot, menghubungi Belanda karena tidak tega melihat kondisinya, dengan syarat ia diperlakukan terhormat.

Di Sumedang identitasnya disembunyikan dari penduduk; ia dikenal sebagai Ibu Perbu, mengajarkan Al-Qur'an dan agama, dan baru diidentifikasi kembali sebagai Cut Nyak Dhien pada 1959. Film Tjoet Nja' Dhien (1988) dengan Christine Hakim membawa kisahnya ke Festival Film Cannes.

Asal-usul

Cut Nyak Dhien dilahirkan di Lampadang, wilayah VI Mukim, dari ayah Teuku Nanta Seutia, uleebalang yang aktif dalam urusan politik Kesultanan Aceh, dan ibu dari keluarga bangsawan Lampagar. Ia dibesarkan dalam pendidikan agama dan adat bangsawan. Tahun kelahirannya tidak seragam dalam sumber: banyak publikasi menyebut 1848, sementara biografi resmi terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menulis sekitar 1850. Pada 1862, dalam usia yang sangat muda, ia dinikahkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga.

Perang Aceh

Perkawinan pertama dan pengungsian (1873–1878)

Ketika Belanda menyerbu Kutaraja pada 1873, Cut Nyak Dhien dan keluarganya mengungsi, sementara suaminya bertempur. Teuku Ibrahim Lamnga gugur pada 1878, dan menurut riwayat yang diturunkan, ia bersumpah hanya akan menikah lagi dengan lelaki yang mau membantunya membalas kematian suaminya.

Bersama Teuku Umar (1880–1899)

Teuku Umar, panglima muda yang masih kerabatnya, melamarnya dan diterima dengan syarat ia boleh ikut ke medan perang; mereka menikah pada 1880. Pasangan itu menjadi poros perlawanan di Aceh Besar dan pesisir barat. Pada 1893 Umar menempuh langkah yang paling diperdebatkan dalam sejarah perang itu: berpura-pura menyerah kepada Belanda, menerima gelar, senjata, dan pasukan, lalu pada 1896 berbalik melawan dengan semua yang ia peroleh. Cut Nyak Dhien disebut ikut mempertahankan jaringan perlawanan selama masa penyamaran itu. Teuku Umar gugur dalam penyergapan di Meulaboh pada 11 Februari 1899.

Memimpin sendiri dan penangkapan (1899–1905)

Setelah kematian Umar, Cut Nyak Dhien memimpin sisa pasukan dalam perang gerilya di pedalaman, bergerak dari satu tempat ke tempat lain sementara Belanda mengubah strategi dengan pasukan marsose yang bergerak cepat. Kesehatannya merosot; ia menderita rabun dan encok. Pada 1905 Pang Laot, panglimanya, diam-diam menghubungi Belanda, dan pasukan Belanda menyergap persembunyiannya. Ia ditahan di Kutaraja, tempat kunjungan masyarakat yang tak henti membuat Belanda khawatir akan pengaruhnya.

Pengasingan dan warisan

Pada 1906 Belanda memutuskan membuangnya dari Aceh, dan ia tiba di Sumedang pada 1907 bersama seorang pengikut. Bupati Sumedang menitipkannya kepada seorang ulama, dan ia mengajar agama hingga wafat pada 6 November 1908; ia dimakamkan di Gunung Puyuh. Putrinya, Cut Gambang, melanjutkan perlawanan di Aceh. Makamnya baru diidentifikasi pada 1959 atas permintaan Gubernur Aceh, dan pada 2 Mei 1964 Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Namanya kini melekat pada bandar udara di Nagan Raya, kapal perang, dan jalan-jalan di banyak kota.

Kronologi

  1. ±1848Lahir di Lampadang, VI Mukim, Aceh Besar, putri uleebalang Teuku Nanta Seutia; sumber menyebut 1848 atau sekitar 1850.
  2. 1862Menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga.
  3. 1873Perang Aceh pecah; Belanda menyerbu Kutaraja.
  4. 1878Teuku Ibrahim Lamnga gugur; Cut Nyak Dhien bersumpah melanjutkan perlawanan.
  5. 1880Menikah dengan Teuku Umar dengan syarat boleh ikut bertempur.
  6. 1893Teuku Umar berpura-pura menyerah kepada Belanda dan menerima persenjataan.
  7. 1896Teuku Umar berbalik melawan Belanda dengan senjata yang diperolehnya.
  8. 1899Teuku Umar gugur di Meulaboh, 11 Februari; Cut Nyak Dhien memimpin pasukannya sendiri.
  9. 1905Ditangkap Belanda setelah panglimanya, Pang Laot, menghubungi Belanda karena iba pada kondisinya; ditahan di Kutaraja.
  10. 1906Belanda memutuskan mengasingkannya ke Jawa; tiba di Sumedang pada 1907.
  11. 1908Meninggal di Sumedang, 6 November; dimakamkan di Gunung Puyuh.
  12. 1959Makamnya diidentifikasi kembali di Sumedang.
  13. 1964Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, 2 Mei.

Sumber

Rujukan yang dipakai untuk menyusun profil ini. Sumber primer dan lembaga resmi diutamakan; lihat kebijakan sumber.

  1. Cut Nyak DhienWikipedia bahasa IndonesiaDiakses 15 September 2026
  2. Cut Nyak DhienWikipedia (English)Diakses 15 September 2026
  3. Cut Nyak DhienEncyclopaedia BritannicaDiakses 15 September 2026
  4. Cut Nyak Dhien (Q2183970)WikidataDiakses 15 September 2026

Profil ini disusun oleh Lihat.bio Editorial dari sumber yang tercantum di atas dan diperiksa ulang sebelum terbit. Menemukan data yang keliru atau sudah usang? Lihat cara mengajukan koreksi. Dipublikasikan .