Pelopor pendidikan perempuanIndonesia (Hindia Belanda)1879–1904
Kartini
Bangsawan Jepara yang surat-suratnya kepada sahabat pena Belanda menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, manifesto paling awal tentang pendidikan dan kebebasan perempuan pribumi, yang meninggal pada usia 25 tahun.

Siapa Kartini?
Raden Ajeng Kartini adalah perempuan bangsawan Jawa yang lahir di Jepara pada 21 April 1879 dan meninggal di Rembang pada 17 September 1904, pada usia 25 tahun. Dalam surat-surat kepada sahabat pena di Belanda yang ia tulis antara 1899 dan 1904, ia menggugat pingitan, poligami, dan tertutupnya pendidikan bagi perempuan pribumi, dan membayangkan Jawa yang maju lewat sekolah. Surat-surat itu terbit setelah kematiannya sebagai Door Duisternis tot Licht (1911), dikenal di Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1964, dan hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kartini.
Mengapa Kartini dikenal
Kartini menulis pada saat perempuan Jawa dari kalangannya tidak boleh keluar rumah setelah usia dua belas tahun. Dari balik pingitan ia membaca buku dan majalah Belanda, berkorespondensi dengan kaum feminis dan pejabat Politik Etis, dan menuliskan pikiran yang belum pernah diungkapkan perempuan pribumi secara terbuka: bahwa pendidikan adalah jalan bagi perempuan dan bangsanya. Ia tidak hanya menulis; pada 1903 ia membuka sekolah kecil bagi anak perempuan di kediaman ayahnya, dan melanjutkannya di Rembang setelah menikah.
Buku surat-suratnya menggerakkan pendirian Sekolah Kartini di berbagai kota pada 1910-an, dan sejak 1964 ia menjadi lambang resmi emansipasi perempuan Indonesia, sekaligus bahan perdebatan tentang siapa yang berhak menyunting warisannya.
Masa kecil dan pingitan
Kartini adalah putri R.M.A.A. Sosroningrat, yang diangkat menjadi Bupati Jepara tak lama setelah ia lahir, dan M.A. Ngasirah, istri pertama yang bukan bangsawan tinggi. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, dikenal sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya, dan ayahnya melanjutkan tradisi itu: Kartini boleh bersekolah di Europeesche Lagere School sampai usia dua belas tahun dan fasih berbahasa Belanda. Setelah itu ia dipingit hingga menikah, aturan yang ia patuhi dengan berat hati dan ia lawan dengan membaca.
Surat-surat dan sekolah (1899–1904)
Pada 1899 Kartini mulai berkorespondensi dengan Stella Zeehandelaar, sosialis dan feminis muda di Amsterdam, lalu dengan Rosa Abendanon, istri Direktur Pengajaran Hindia Belanda J.H. Abendanon, yang menjadi penasihat dan sahabat terdekatnya. Kepada mereka ia menulis tentang cita-citanya belajar menjadi guru, kritiknya terhadap adat dan poligami, dan kekagumannya sekaligus kejengkelannya pada Eropa. Bersama adik-adiknya, Roekmini dan Kardinah, ia dikenal di kalangan Belanda sebagai tiga bersaudara Jepara yang cerdas. Rencana beasiswa belajar ke Belanda dan kemudian ke Batavia dibatalkan, sebagian karena tekanan keluarga dan sebagian atas nasihat Abendanon sendiri.
Pada 1903 ia membuka sekolah bagi anak perempuan di Jepara. Pada 8 November tahun itu ia menikah dengan Bupati Rembang, R.M.A.A. Djojoadhiningrat, duda dengan beberapa istri, dengan syarat ia boleh terus mengajar. Di Rembang ia mendirikan sekolah lagi dan mendorong kerajinan ukir Jepara. Ia melahirkan putranya, Soesalit, pada 13 September 1904, dan meninggal empat hari kemudian.
Warisan
J.H. Abendanon menyunting surat-suratnya menjadi Door Duisternis tot Licht pada 1911; terjemahan Melayu terbit pada 1922, dan terjemahan Armijn Pane, Habis Gelap Terbitlah Terang, pada 1938. Yayasan Kartini yang didirikan Van Deventer membuka Sekolah Kartini pertama di Semarang pada 1912, disusul Jakarta, Bogor, Malang, dan kota lain. Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1964 dan menjadikan 21 April sebagai Hari Kartini. Sejarawan kemudian memperdebatkan penyuntingan Abendanon dan pilihan negara menonjolkan Kartini di atas pejuang perempuan lain, tetapi surat-suratnya, yang kini tersedia dalam edisi lengkap, tetap dibaca sebagai suara pertama perempuan Indonesia modern. Pramoedya Ananta Toer menulis biografinya, Panggil Aku Kartini Saja, pada 1962, dan Dian Sastrowardoyo memerankannya dalam film Kartini (2017).
Karya dan warisan
Tulisan
- 1899–1904Surat-surat kepada Stella Zeehandelaar, Rosa Abendanon, dan sahabat pena lain
- 1911Door Duisternis tot Lichtkumpulan surat yang disunting J.H. Abendanon, terbit di Belanda
- 1922Habis Gelap Terbitlah Terangterjemahan Melayu pertama oleh Balai Pustaka; terjemahan Armijn Pane terbit 1938
Lembaga
- 1903Sekolah untuk anak perempuan di Jepara, lalu di Rembang
- 1912Sekolah Kartinididirikan Yayasan Kartini yang dibentuk Van Deventer di Semarang, disusul kota-kota lain
Linimasa
- 1879Lahir di Mayong, Jepara, 21 April, putri Bupati Jepara R.M.A.A. Sosroningrat dan M.A. Ngasirah.
- 1891Menyelesaikan ELS pada usia 12 tahun, lalu dipingit di rumah sesuai adat.
- 1899Mulai berkorespondensi dengan Stella Zeehandelaar di Belanda.
- 1900Berkenalan dengan J.H. Abendanon, Direktur Pengajaran Hindia Belanda, dan istrinya Rosa.
- 1903Membuka sekolah kecil untuk anak perempuan di Jepara; permohonan beasiswa ke Belanda dibatalkan; menikah dengan Bupati Rembang pada 8 November.
- 1904Melahirkan putranya, Soesalit, 13 September; meninggal empat hari kemudian pada usia 25 tahun.
- 1911Door Duisternis tot Licht terbit di Den Haag.
- 1964Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno; 21 April menjadi Hari Kartini.
Pendidikan
- Europeesche Lagere School, Jepara — hingga usia 12 tahun
Sumber
Rujukan yang dipakai untuk menyusun profil ini. Sumber primer dan lembaga resmi diutamakan; lihat kebijakan sumber.
- KartiniWikipedia bahasa IndonesiaDiakses 15 September 2026
- KartiniWikipedia (English)Diakses 15 September 2026
- Raden Adjeng KartiniEncyclopaedia BritannicaDiakses 15 September 2026
- Kartini (Q1373764)WikidataDiakses 15 September 2026
Profil ini disusun oleh Lihat.bio Editorial dari sumber yang tercantum di atas dan diperiksa ulang sebelum terbit. Menemukan data yang keliru atau sudah usang? Lihat cara mengajukan koreksi. Dipublikasikan .