SastrawanIndonesia1925–2006

Pramoedya Ananta Toer

Novelis Indonesia paling diterjemahkan di dunia, penulis Tetralogi Buru yang ia susun secara lisan di kamp tahanan Pulau Buru, dan satu-satunya sastrawan Indonesia yang berulang kali dinominasikan untuk Nobel Sastra.

Oleh Lihat.bio EditorialDiperbarui 5 sumber

Pramoedya Ananta Toer
Foto: Kementerian Pendidikan (Kempen) · Public domain · Wikimedia Commons

Siapa Pramoedya Ananta Toer?

Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan Indonesia yang lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta pada 30 April 2006. Ia menulis lebih dari lima puluh buku, yang paling terkenal adalah Tetralogi Buru yang dibuka Bumi Manusia (1980), dan karyanya diterjemahkan ke lebih dari empat puluh bahasa, menjadikannya penulis Indonesia yang paling banyak dibaca di luar negeri. Ia berulang kali dinominasikan untuk Hadiah Nobel Sastra.

Ia dipenjara oleh tiga rezim: Belanda, Soekarno, dan Soeharto. Empat belas tahun terakhir, tanpa pengadilan, sebagian besar dijalani di kamp kerja paksa Pulau Buru.

Mengapa Pramoedya dikenal

Tetralogi Buru lahir dengan cara yang nyaris mustahil. Di Buru, Pramoedya dilarang menulis, sehingga ia menuturkan kisah Minke, priyayi muda Jawa di awal abad ke-20, secara lisan kepada sesama tahanan, malam demi malam, sampai akhirnya diizinkan menuliskannya dan naskahnya diselundupkan keluar. Bumi Manusia terbit pada 1980, laris dalam hitungan bulan, lalu dilarang pemerintah Orde Baru pada 1981 dengan tuduhan menyebarkan marxisme. Larangan itu bertahan sampai 2000, tetapi buku-bukunya tetap beredar diam-diam dan dibaca generasi mahasiswa yang menjatuhkan Soeharto.

Di luar negeri ia menjadi simbol kebebasan berekspresi, menerima PEN Freedom to Write Award pada 1988 dan Ramon Magsaysay Award pada 1995, penghargaan yang justru diprotes sejumlah sastrawan Indonesia yang mengingat sikap kerasnya pada masa Lekra.

Masa muda

Pramoedya adalah anak sulung dari seorang guru yang aktif di Boedi Oetomo. Nama keluarganya, Mastoer, ia potong menjadi Toer karena awalan "Mas" terasa terlalu aristokratik. Ia bersekolah di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, lalu bekerja sebagai juru ketik kantor berita Jepang Domei di Jakarta pada masa pendudukan.

Karier

Revolusi dan penjara Belanda (1945–1949)

Selama revolusi Pramoedya bergabung dengan satuan bersenjata di Jawa dan ditangkap Belanda pada 1947. Dua tahun di penjara Bukit Duri ia gunakan untuk menulis: Perburuan, yang memenangi sayembara Balai Pustaka, dan sebagian Keluarga Gerilya. Setelah bebas ia menjadi penulis paling menonjol generasinya, dengan Cerita dari Blora dan Bukan Pasar Malam.

Lekra dan tahanan Soekarno (1950-an–1965)

Pada 1953 ia tinggal di Belanda dalam program pertukaran budaya, dan sepulangnya semakin dekat dengan Lekra, lembaga kebudayaan sayap kiri. Novel Korupsi (1954) mengkritik birokrasi, dan bukunya tentang sejarah orang Tionghoa di Indonesia, Hoakiau di Indonesia (1960), membuatnya dipenjara setahun oleh pemerintah Soekarno. Sebagai redaktur rubrik budaya Lentera di harian Bintang Timur ia menjadi kritikus yang ditakuti, dan polemik itu meninggalkan luka yang panjang di kalangan sastrawan.

Buru dan Tetralogi (1965–1979)

Setelah peristiwa 30 September 1965 ia ditangkap pada 13 Oktober tanpa pengadilan; perpustakaan dan naskah-naskahnya dibakar. Ia ditahan di Jakarta dan Nusakambangan sebelum dibuang ke Pulau Buru pada Agustus 1969. Di sana ia menyusun Tetralogi Buru dan memoar yang kelak terbit sebagai Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ia dibebaskan pada 12 November 1979, tetapi dikenai tahanan kota di Jakarta sampai 1992 dan wajib lapor bertahun-tahun.

Setelah Buru (1980–2006)

Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa terbit pada 1980 lewat Hasta Mitra, penerbit yang didirikan sesama bekas tahanan Buru, disusul Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Pramoedya terus menulis dan diwawancarai media asing meski dikucilkan resmi di dalam negeri. Ia menerima Magsaysay pada 1995, Hadiah Budaya Asia Fukuoka pada 2000, dan masuk daftar Asian Heroes majalah Time pada 2002 bersama Iwan Fals. Ia meninggal pada 30 April 2006 pada usia 81 tahun.

Warisan

Tetralogi Buru kini menjadi bacaan wajib di banyak universitas dan diadaptasi ke film Bumi Manusia (2019) serta panggung Bunga Penutup Abad oleh Reza Rahadian. Penulis generasi berikutnya, dari Eka Kurniawan hingga Leila S. Chudori, menyebutnya sebagai titik acuan novel Indonesia. Rumah masa kecilnya di Blora dikelola keluarganya sebagai perpustakaan Pataba.

Karya utama

Pramoedya menulis lebih dari lima puluh buku yang diterjemahkan ke lebih dari empat puluh bahasa. Sebagian besar dilarang beredar di Indonesia selama Orde Baru.

Novel awal

  • 1950Perburuanditulis dalam penjara Belanda di Bukit Duri
  • 1950Keluarga Gerilya
  • 1952Cerita dari Blorakumpulan cerita pendek
  • 1954Korupsi
  • 1962Panggil Aku Kartini Saja

Tetralogi Buru

  • 1980Bumi Manusia
  • 1980Anak Semua Bangsa
  • 1985Jejak Langkah
  • 1988Rumah Kaca

Karya lain

  • 1985Gadis Pantai
  • 1995Nyanyi Sunyi Seorang Bisumemoar dari Pulau Buru
  • 1999Arus Balik

Prestasi & penghargaan

  • 1988PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write Award.
  • 1995Ramon Magsaysay Award untuk jurnalisme, sastra, dan seni komunikasi kreatif; penerimaannya diprotes sejumlah sastrawan Indonesia.
  • 2000Hadiah Budaya Asia Fukuoka.
  • 2002Masuk daftar Asian Heroes majalah Time bersama Iwan Fals.
  • 2005Norwegian Authors' Union Award untuk kebebasan berekspresi.

Linimasa

  1. 1925Lahir di Blora, 6 Februari, anak sulung seorang guru dan aktivis Boedi Oetomo.
  2. 1940-anBekerja sebagai juru ketik kantor berita Jepang Domei di Jakarta.
  3. 1947Ditangkap Belanda; dipenjara di Bukit Duri hingga 1949 dan menulis Perburuan di sana.
  4. 1953Tinggal di Belanda dalam program pertukaran budaya.
  5. 1960Dipenjara setahun oleh pemerintah Soekarno setelah menerbitkan Hoakiau di Indonesia.
  6. 1965Ditangkap 13 Oktober tanpa pengadilan; perpustakaan dan naskahnya dibakar.
  7. 1969Dibuang ke Pulau Buru pada Agustus; dilarang menulis dan menuturkan Bumi Manusia secara lisan kepada sesama tahanan.
  8. 1979Dibebaskan dari Buru pada 12 November; tetap dalam tahanan kota di Jakarta hingga 1992.
  9. 1980Bumi Manusia terbit, laris, lalu dilarang pada 1981.
  10. 1995Ramon Magsaysay Award.
  11. 2006Meninggal di Jakarta, 30 April, pada usia 81 tahun; dimakamkan di Karet Bivak.

Sumber

Rujukan yang dipakai untuk menyusun profil ini. Sumber primer dan lembaga resmi diutamakan; lihat kebijakan sumber.

  1. Pramoedya Ananta ToerRamon Magsaysay Award FoundationDiakses 15 September 2026
  2. Pramoedya Ananta ToerWikipedia bahasa IndonesiaDiakses 15 September 2026
  3. Pramoedya Ananta ToerWikipedia (English)Diakses 15 September 2026
  4. Asian heroes listed in Time magazineThe China Post, 24 April 2002Diakses 15 September 2026
  5. Pramoedya Ananta Toer (Q326935)WikidataDiakses 15 September 2026

Profil ini disusun oleh Lihat.bio Editorial dari sumber yang tercantum di atas dan diperiksa ulang sebelum terbit. Menemukan data yang keliru atau sudah usang? Lihat cara mengajukan koreksi. Dipublikasikan .