Pendiri Taman Siswa & Bapak Pendidikan NasionalIndonesia1889–1959

Ki Hajar Dewantara

Bangsawan Pakualaman yang dibuang Belanda karena tulisan satirnya, lalu mendirikan Taman Siswa dan meletakkan dasar pendidikan nasional dengan semboyan tut wuri handayani.

Oleh Lihat.bio EditorialDiperbarui 4 sumber

Ki Hajar Dewantara
Foto: Mimbar Umum, 18 Oktober 1949 · Public domain · Wikimedia Commons

Siapa Ki Hajar Dewantara?

Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Perguruan Taman Siswa dan tokoh yang diakui sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, bangsawan Pakualaman, berkarier sebagai wartawan dan aktivis pergerakan, dibuang Belanda ke Eropa karena tulisannya, lalu pada 1922 mendirikan sekolah yang memberi pendidikan modern kepada anak-anak pribumi. Ia meninggal di Yogyakarta pada 26 April 1959.

Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, dan semboyannya, tut wuri handayani, menjadi lambang kementerian pendidikan.

Mengapa Ki Hajar Dewantara dikenal

Dua hal membuat namanya abadi. Pertama, tulisan Als ik eens Nederlander was pada 1913, satir tajam yang mempertanyakan mengapa pribumi harus menyumbang untuk perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis; tulisan itu membuatnya dan dua rekannya di Indische Partij dibuang, dan menjadikannya simbol keberanian pers pergerakan. Kedua, Taman Siswa, yang ia dirikan sepulang dari pengasingan dan tumbuh menjadi jaringan sekolah di seluruh Hindia Belanda dengan gagasan pendidikan yang berakar pada kebudayaan sendiri, mendidik dengan teladan, dorongan, dan kebebasan, bukan paksaan.

Ia berhasil memaksa pemerintah kolonial mencabut Ordonansi Sekolah Liar pada 1932, dan pada 1945 menjadi Menteri Pengajaran pertama republik.

Masa muda

Soewardi adalah putra G.P.H. Soerjaningrat dan cucu Paku Alam III. Ia menamatkan ELS, sekolah dasar untuk anak Eropa, lalu masuk STOVIA untuk menjadi dokter tetapi berhenti karena sakit. Ia beralih menjadi wartawan di sejumlah surat kabar, termasuk De Expres dan Oetoesan Hindia, dan dikenal sebagai penulis yang komunikatif dan antikolonial. Sejak 1908 ia aktif di Boedi Oetomo dan ikut menyelenggarakan kongres pertamanya di Yogyakarta.

Pergerakan dan pengasingan (1912–1919)

Bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij pada 6 September 1912, partai politik pertama yang secara terbuka menuntut Hindia merdeka dan tidak membedakan ras. Setelah tulisannya pada Juli 1913 dan pembentukan Komite Bumiputera yang menolak sumbangan perayaan Belanda, ketiganya, yang dikenal sebagai Tiga Serangkai, dibuang. Soewardi memilih Belanda sebagai tempat pengasingan, dan di sana ia mendalami pendidikan, memperoleh ijazah guru, dan mengenal pemikiran Maria Montessori serta Rabindranath Tagore yang kelak membentuk Taman Siswa.

Taman Siswa (1922–1945)

Pada 3 Juli 1922 ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa di Yogyakarta. Sekolah itu mengajarkan pengetahuan modern sekaligus kesenian dan nilai Jawa, dengan sistem among yang ia rumuskan dalam tiga semboyan: di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dorongan. Pada 1928, saat memasuki usia empat puluh menurut perhitungan Jawa, ia melepas gelar bangsawannya dan memakai nama Ki Hadjar Dewantara agar bisa dekat dengan rakyat. Ketika pemerintah kolonial mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1932 untuk mengawasi sekolah swasta, ia memimpin penolakan yang membuat ordonansi itu dicabut. Pada masa pendudukan Jepang ia menjadi anggota Empat Serangkai bersama Soekarno, Hatta, dan K.H. Mas Mansur yang memimpin Poetera.

Indonesia merdeka (1945–1959)

Soekarno mengangkatnya sebagai Menteri Pengajaran dalam kabinet pertama republik pada Agustus 1945. Ia menerima doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada 1957 dan dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia meninggal pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta; pada 28 November tahun itu Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional kedua Indonesia. Potretnya pernah menghiasi uang kertas Rp20.000, dan namanya diabadikan pada kapal perang KRI Ki Hajar Dewantara.

Karya dan lembaga

Tulisan

  • 1913Als ik eens Nederlander wasSeandainya Aku Seorang Belanda; satir yang membuatnya dibuang
  • 1913Een voor Allen maar Ook Allen voor EenSatu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu

Lembaga dan gagasan

  • 1922Perguruan Nasional Taman Siswadidirikan di Yogyakarta, 3 Juli 1922
  • 1920-anSistem amonging ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani

Linimasa

  1. 1889Lahir di Yogyakarta, 2 Mei, sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, cucu Paku Alam III.
  2. 1908Aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo dan ikut mengorganisasi kongres pertamanya.
  3. 1912Mendirikan Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, 6 September.
  4. 1913Menulis Als ik eens Nederlander was pada Juli; dibuang ke Belanda bersama dua rekannya.
  5. 1919Kembali ke Hindia Belanda setelah memperoleh ijazah guru.
  6. 1922Mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta, 3 Juli.
  7. 1928Mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara saat berusia empat puluh tahun menurut hitungan Jawa.
  8. 1932Memimpin perlawanan terhadap Ordonansi Sekolah Liar hingga dicabut.
  9. 1945Menjadi Menteri Pengajaran pertama dalam kabinet presidensial Soekarno.
  10. 1957Doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada.
  11. 1959Meninggal di Yogyakarta, 26 April; ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 28 November.

Pendidikan

Europeesche Lagere School, Yogyakarta
STOVIA, Batavia — kedokteran, tidak selesai
Belanda — Europeesche Akte (ijazah guru) selama pengasingan, 1913–1919

Sumber

Rujukan yang dipakai untuk menyusun profil ini. Sumber primer dan lembaga resmi diutamakan; lihat kebijakan sumber.

  1. Ki Hadjar DewantaraWikipedia bahasa IndonesiaDiakses 15 September 2026
  2. Ki Hajar DewantaraWikipedia (English)Diakses 15 September 2026
  3. Ki Hajar DewantaraEnsiklopedia KemdikbudDiakses 15 September 2026
  4. Ki Hadjar Dewantara (Q1815982)WikidataDiakses 15 September 2026

Profil ini disusun oleh Lihat.bio Editorial dari sumber yang tercantum di atas dan diperiksa ulang sebelum terbit. Menemukan data yang keliru atau sudah usang? Lihat cara mengajukan koreksi. Dipublikasikan .