Pebulu tangkisIndonesialahir 1971

Susi Susanti

Peraih medali emas Olimpiade pertama Indonesia, juara tunggal putri Barcelona 1992, dan satu-satunya pemain putri yang pernah memegang gelar Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All England secara bersamaan.

Oleh Lihat.bio EditorialDiperbarui 4 sumber

Susi Susanti
Foto: Ismar Patrizki · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons

Siapa Susi Susanti?

Susi Susanti adalah mantan pebulu tangkis tunggal putri Indonesia yang lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 11 Februari 1971. Pada Olimpiade Barcelona 1992, ketika bulu tangkis pertama kali dipertandingkan secara resmi, ia merebut medali emas tunggal putri dan menjadi peraih emas Olimpiade pertama dalam sejarah Indonesia.

Sepanjang paruh pertama 1990-an ia adalah pemain putri paling dominan di dunia: empat gelar All England, satu gelar juara dunia, dan enam gelar Grand Prix Finals, sebelum pensiun pada 1998.

Mengapa Susi Susanti dikenal

Emas Barcelona adalah momen yang mengubah posisi bulu tangkis dalam kehidupan publik Indonesia. Pada hari yang sama, Alan Budikusuma, yang kelak menjadi suaminya, memenangi tunggal putra, dan keduanya pulang sebagai pahlawan nasional. Negara menganugerahkan Bintang Jasa Utama, dan sejak itu emas Olimpiade menjadi tolok ukur setiap generasi pebulu tangkis Indonesia.

Rekornya bertahan sampai sekarang: ia satu-satunya pemain putri yang pernah memegang gelar Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All England secara bersamaan, dan ia memimpin Indonesia merebut Piala Uber dari Tiongkok pada 1994 dan 1996. Federasi Bulu Tangkis Dunia memasukkannya ke Hall of Fame pada 2004.

Masa kecil

Susi lahir dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Banowati. Ayahnya adalah mantan pemain bulu tangkis yang gagal menjadi juara karena cedera lutut, dan ia melatih Susi setiap hari, dari pukulan sampai kerja kaki dan stamina. Susi berlatih tujuh tahun di klub pamannya, PB Tunas Tasikmalaya, dan memenangi berbagai kejuaraan junior. Pada 1985, saat masih SMP, ia pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan PB Jaya Raya, bersekolah di SMP dan SMA Negeri Ragunan, dan kemudian kuliah di STIE Perbanas.

Karier

Naik ke puncak (1985–1991)

Di Jaya Raya, Susi dilatih Liang Ciu Sia. Perawakannya kecil, tetapi ia memadukan gerak kaki yang cepat dan lentur dengan teknik pukulan yang halus dan daya tahan yang luar biasa; reli panjang adalah senjatanya. Pada usia sembilan belas tahun ia menjuarai All England 1990 dan mempertahankannya setahun kemudian, sekaligus memulai rangkaian lima gelar Grand Prix Finals berturut-turut.

Barcelona dan dominasi (1992–1996)

Di Barcelona 1992 ia mengalahkan Bang Soo-hyun dari Korea Selatan di final dalam tiga gim. Air matanya di podium menjadi salah satu gambar paling dikenang dalam sejarah olahraga Indonesia. Setahun kemudian ia menjuarai Kejuaraan Dunia di Birmingham, dan bersama gelar All England 1993 ia memegang tiga mahkota terbesar sekaligus. Pesaing utamanya adalah para pemain Tiongkok, Tang Jiuhong, Huang Hua, lalu Ye Zhaoying, serta Bang Soo-hyun. Pada 1994 dan 1996 ia menjadi tulang punggung tim Piala Uber yang mengakhiri dominasi Tiongkok. Di Atlanta 1996 ia meraih perunggu.

Pensiun dan sesudahnya

Susi menikah dengan Alan Budikusuma pada Februari 1997 dan gantung raket pada 1998 setelah dinyatakan hamil, melepas satu-satunya gelar besar yang belum ia raih, emas Asian Games. PBSI menggelar upacara pelepasan resmi pertamanya untuk seorang pemain di Istora Senayan pada 30 Oktober 1999. Bersama suaminya ia membangun merek perlengkapan bulu tangkis Astec. Pada 2018 ia menyalakan api Asian Games di Gelora Bung Karno, dan pada 2019 kisah hidupnya difilmkan dalam Susi Susanti: Love All dengan Laura Basuki sebagai pemeran utama.

Gelar dan penghargaan

  • 1990Juara All England pertama; menyusul 1991, 1993, dan 1994.
  • 1990–1994Juara World Badminton Grand Prix Finals lima kali berturut-turut, dan sekali lagi pada 1996.
  • 1992Medali emas tunggal putri Olimpiade Barcelona, emas Olimpiade pertama dalam sejarah Indonesia; menerima Bintang Jasa Utama.
  • 1993Juara Kejuaraan Dunia IBF di Birmingham.
  • 1994Memimpin Indonesia merebut Piala Uber dari Tiongkok; diulang pada 1996.
  • 1996Medali perunggu Olimpiade Atlanta.
  • 2002Piala Herbert Scheele dari Federasi Bulu Tangkis Internasional.
  • 2004Masuk Hall of Fame Federasi Bulu Tangkis Dunia.

Linimasa

  1. 1971Lahir di Tasikmalaya, 11 Februari; ayahnya mantan pemain bulu tangkis yang melatihnya sejak kecil.
  2. 1985Pindah ke Jakarta dan bergabung dengan PB Jaya Raya di bawah pelatih Liang Ciu Sia.
  3. 1990Gelar All England pertama pada usia 19 tahun.
  4. 1992Emas Olimpiade Barcelona, 4 Agustus; Alan Budikusuma meraih emas tunggal putra di hari yang sama.
  5. 1993Juara dunia; memegang gelar Olimpiade, dunia, dan All England sekaligus.
  6. 1996Perunggu Olimpiade Atlanta; Piala Uber kedua.
  7. 1997Menikah dengan Alan Budikusuma pada Februari.
  8. 1998Gantung raket; pelepasan resmi oleh PBSI di Istora Senayan pada 30 Oktober 1999.
  9. 2004Dinobatkan ke Hall of Fame BWF.
  10. 2018Menyalakan api Asian Games di Gelora Bung Karno.
  11. 2019Kisah hidupnya difilmkan dalam Susi Susanti: Love All.

Pendidikan

STIE Perbanas Jakarta

Tautan resmi

Sumber

Rujukan yang dipakai untuk menyusun profil ini. Sumber primer dan lembaga resmi diutamakan; lihat kebijakan sumber.

  1. Susi SusantiBWF Hall of Fame / Wikipedia (English)Diakses 15 September 2026
  2. Susi SusantiWikipedia bahasa IndonesiaDiakses 15 September 2026
  3. Susi Susanti (Q464589)WikidataDiakses 15 September 2026
  4. Badminton at the 1992 Summer Olympics – Women's singlesWikipedia (English)Diakses 15 September 2026

Profil ini disusun oleh Lihat.bio Editorial dari sumber yang tercantum di atas dan diperiksa ulang sebelum terbit. Menemukan data yang keliru atau sudah usang? Lihat cara mengajukan koreksi. Dipublikasikan .